Beranda | Artikel
Ridha kepada Allah sebagai Rabb
15 jam lalu

Ridha kepada Allah sebagai Rabb adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Fawaidul Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 25 Jumadil Awal 1448 H / 5 November 2026 M.

Kajian Islam Tentang Ridha kepada Allah sebagai Rabb

…وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu, padahal itu amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)

Ilmu yang Agung dan Ketenangan Hati

Seorang hamba yang telah mencapai pengetahuan ini dan mendapatkan ilmu yang sangat agung selalu meyakini bahwa pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah yang terbaik. Sifat ini lahir dari keyakinan yang kuat melalui pengenalan terhadap sifat-sifat kesempurnaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama-Nya yang Maha Indah, serta sifat-sifat-Nya yang Maha Agung lagi Maha Tinggi.

Kapan saja seorang hamba meraih ilmu yang agung ini, maka ketenangan dan kedamaian hidup akan dirasakan di dunia sebelum meraih surga di akhirat kelak. Kenikmatan ini tidak ada yang menyerupainya kecuali kenikmatan surga di akhirat.

Inilah surga dunia yang disegerakan bagi orang-orang yang beriman. Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala menukil pernyataan dari guru beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala, dalam kitab Al-Wabilus Sayyib Minal Kalimit Thoyyib:

Sesungguhnya di dunia ini ada surga, yang barangsiapa belum masuk ke dalamnya, maka ia tidak akan masuk ke surga di akhirat.

Surga di dunia adalah ketenangan yang diperoleh seseorang melalui pengenalan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta sikap tenang terhadap segala ketentuan-Nya. Hamba tersebut tidak perlu repot memikirkan sesuatu secara berlebihan, melainkan senantiasa mengikuti apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tentukan serta mencari sebab-sebab keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada setiap ketetapan-Nya.

Ridha sebagai Surga Dunia

Hamba yang senantiasa ridha dengan Rabbnya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadikan keridhaan tersebut sebagai surga dunia. Seseorang yang ditimpa kesulitan apa pun akan merasakan surga di dalam hatinya apabila dilandasi dengan keridhaan. Dia selalu merasa cukup dan tengan dengan yang Allah pilihkan.

Kehidupan orang-orang yang beriman selalu berputar dalam kebaikan dan kenikmatan. Meskipun dipandang oleh orang-orang yang jahil seolah-olah hidup dalam kesulitan atau penderitaan, dari dalam diri mereka terpancar kebahagiaan dan kesenangan.

Hal tersebut tercermin dari kisah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala ketika beliau menderita di dalam penjara akibat difitnah oleh musuh-musuh dakwah karena membela akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Beliau tetap bersabar dan bahkan menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat bagi kaum muslimin.

Ketika musuh-musuh dakwah berencana menjerumuskan dan menjebloskan beliau ke dalam kesusahan, beliau sama sekali tidak merasakan kesusahan tersebut, melainkan mengucapkan:

Apa yang ingin diperbuat oleh musuh-musuh terhadapku? Sesungguhnya surgaku ada di dalam dadaku. Ke manapun aku pergi, surga itu selalu bersamaku.

Keimanan yang manis ketika telah dirasakan oleh seorang hamba akan membuat segala kesulitan di dunia tidak mampu menggantikan kenikmatan dan kelezatan iman yang bersemayam di dalam hati.

Hakikat Keridhaan

Ridha merupakan surga dunia sekaligus tempat beristirahat bagi orang-orang yang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala (mustarahul arifin). Keridhaan ini merupakan ketenangan dan kebahagiaan jiwa (thibbun nafs) dalam menghadapi segala ketentuan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang merupakan pilihan terbaik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-Nya.

Seorang hamba yang seperti ini meyakini bahwa apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala pilihkan jauh lebih baik daripada apa yang dipilih oleh dirinya sendiri. Hamba tersebut memiliki ketenangan jiwa dalam menghadapi hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam agama. Sikap ini merupakan wujud ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pencipta dan pengatur urusan yang menentukan segala ketentuan sesuai dengan pilihan-Nya yang Maha Sempurna, ridha kepada Islam sebagai agama, serta ridha kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai Rasul.

Keimanan dan kelezatan iman tidak akan dirasakan oleh seseorang yang belum memiliki sifat ridha tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits shahih:

ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلاَمِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً

“Akan merasakan kelezatan iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai RasulNya.” (HR. Muslim)

Ridha di sini bermakna kegembiraan, penerimaan dengan tenang, serta kelapangan hati dalam menghadapi segala ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, hukum-hukum dalam Islam, serta sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang senantiasa menjadi panutan.

Hubungan Antara Makrifat dan Keridhaan

Keridhaan di dalam diri seorang hamba sangat bergantung pada sejauh mana hamba tersebut mengenal keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala, hikmah-Nya yang maha sempurna, serta baiknya pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menentukan segala sesuatu. Semakin seorang hamba mengenal hal tersebut, maka ia akan semakin ridha dengan segala ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Manusia sering kali mampu berbaik sangka kepada sesama manusia yang memiliki keahlian, ilmu, kebijaksanaan, dan pengaturan yang baik, meskipun sifat manusia pada hakikatnya terbatas dan rentan terhadap kesalahan. Sikap berbaik sangka dan kepercayaan penuh yang diberikan kepada sesama manusia seharusnya jauh lebih utama untuk diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rabb yang Maha Tinggi, Maha Sempurna, Maha Agung, serta memiliki segala sifat kesempurnaan.

Segala ketentuan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berlakukan kepada hamba-Nya senantiasa berkisar pada empat landasan utama yang tidak pernah terlepas darinya, yaitu keadilan, kemaslahatan, hikmah, dan rahmat.

Hikmah bermakna senantiasa menempatkan segala sesuatu secara tepat pada tempatnya. Ketentuan serta keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah keluar dari prinsip-prinsip berikut:

  • Keadilan: Segala takdir yang menimpa hamba mencerminkan Kemahaadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Kemaslahatan: Di balik musibah atau keburukan yang terlihat secara lahiriah, terdapat kemaslahatan besar berupa pengguguran dosa, pengangkatan derajat hamba, serta penyempurnaan sifat sabar dan kebaikan lainnya di dalam diri hamba tersebut.
  • Hikmah: Setiap kejadian telah diatur sesuai dengan porsinya secara sempurna.
  • Rahmat: Ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa diliputi oleh kasih sayang-Nya.

Seluruh ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mungkin keluar dari empat perkara mulia ini.

Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak kajian lengkapnya.

Download MP3 Kajian


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56687-ridha-kepada-allah-sebagai-rabb/